STAI Ahsanta Jambi

TENTANG STAI AHSANTA PROGRAM STUDI AKADEMIK LPM LP2M E-Journal Foto Video BEM
Berita

Ketakwaan Barometer Pertumbuhan Ekonomi

admin - Kamis, 5 September 2019 - 20.30 WIB

Oleh Mohd Haramen SE ME Sy

MENJADI pribadi yang bertakwa bukan hal gampang. Kata tersebut terlalu mudah diucapkan, tapi sulit untuk diimplementasikan. Banyak diantara kita mencoba-coba menerjemah pengertian takwa. Ada yang menyebutkan, takwa adalah pribadi yang bersyukur, ada juga mengatakan orang bertakwa adalah pribadi yang takut akan siksa Allah.

Dalam bahasa agama sendiri, Taqwa memiliki pengertian melaksanakan perintah Allah dan menjauhi larangan Allah.Perintah Allah meliputi syariat dan muamalat. Perintah syariat menyangkut hubungan dengan Allah dalam bentuk ibadah sholat, zakat, puasa dan haji. Sedangkan muamalat, hubungan yang mengatur antar kehidupan manusia. Seperti transaksi ekonomi, dunia perdagangan, industri dan lain-lain. Kaidah Ushul Fiqh nya pun berbeda, untuk perintah dalam bentuk syariat, kaidahnya semuanya dilarang kecuali ada perintah.

Sedangkan menyangkut muamalat, semuanya diperbolehkan kecuali ada larangan. Dalam konteks pertumbuhan ekonomi menyangkut kegiatan muamalah. Dalam Islam, pertumbuhan ekonomi ini begitu dijunjung tinggi. Pertumbuhan ekonomi bukan hanya ditujukan untuk kesejahteraan dunia saja. Tapi, lebih dari itu juga ditujukan untuk kesejahteraan akhirat. Jadi didalam Islam, kesejahteraan yang dimaksud bukan hanya sepenuhnya materialis dan hedonis,  tapi menyangkut aspek spiritual.  Islam menempatkan kehidupan setelah mati sebagai tujuan.

Oleh karena itu, muslim yang benar memiliki iman, dan tidak akan pernah melakukan kezaliman dibidang ekonomi.  Makanya, dalam Islam ada perintah mengeluarkan zakat,  agar terjadi pemerataan harta antar umat manusia. Zakat ini sendiri berarti’ memurnikan, mengembangkan, dan menyebabkan tumbuh.  Zakat adalah proses pendistribusian  sebagian harta individu kepada yang berhak menerimanya. Apabila seorang individu berhak untuk membayar zakat disebut muzakki. Sebaliknya,  bila menjadi penerima zakat disebut mustahiq.  Dalam ekonomi Islam, pembayaran zakat ini memiliki dampak pertumbuhan ekonomi.

Dalam hal ini  dinotasikan dalam persamaan sebagai berikut Y = C + I + G + X- M + Z.  Orang yang bertakwa tentu mampu memaksimalkan pengeluaran zakat kepada yang berhak. Semakin banyak zakat yang dikeluarkan, maka akan semakin besar pengaruhnya terhadap pertumbuhan ekonomi.  Sayangnya, di Indonesia kesadaran untuk mengeluarkan zakat masih rendah. Menurut catatan Baznas, potensi zakat kita mencapai Rp. 216 Triliun. Tapi yang berhasil dikumpulkan baru sekitar 1,2 persen atau Rp 3 triliun. Padahal zakat, bukan saja menentramkan, tapi juga menggairahkan ekonomi. Semua kita umat Islam sadar akan hal itu. (Penulis adalah Ketua Prodi Ekonomi Syariah STAI Ahsanta Jambi)

Berita Terbaru

Copyright © 2019 STAI Ahsanta