STAI Ahsanta Jambi

TENTANG STAI AHSANTA PROGRAM STUDI AKADEMIK LPM LP2M E-Journal Foto Video BEM
Berita

Tantangan Perguruan Tinggi Islam di Era Revolusi Industri 4.0

admin - Kamis, 5 September 2019 - 20.04 WIB

Globalisasi telah memasuki era baru, yang disebut dengan istilah revolusi industri 4.0. Revolusi industri 4.0 merupakan sistem digitalisasi yang mengintegariskan perpaduan antara internet dengan manufaktur, buah revolusi industri 4.0 adalah munculnya fenomena distruptive innovation yang berdampak pada segala bidang termasuk pendidikan.

Istilah revolusi industri diperkenalkan oleh fridricg Engles dan Louise Auguste Blanqui dipertengahan abad ke -19. Revolusi industri terjadi pada empat fase yakni; Fase awal disebut dengan istilah revolusi industri 1.0 yang diperkirakan terjadi pada abad 18 melalui penemuan mesin uap yang diproduksi secara masal, sedangkan fase kedua disebut dengan revolusi industri 2.0 yang terjadi pada abad ke 19-20 melalui penggunanaan listrik yang membuat biaya produksi menjadi murah, sementara fase ke tiga disebut dengan revolusi industri 3.0 yang terjadi sekitar tahun 1970-an melalui sistem komputerisasi, yang terakhir tahap ke empat dikenal dengan revulusi 4.0 yang terjadi sekitar tahun 2010an sampai dengan hari ini melalui rekayasa intlegensial dan internet of thing sebagai pondasi digitalisasi yang mengkoneksikan antara manusia dan mesin.

Menurut para ahli dalam dunia pendidikan revolusi industri melahirkan satu sistem yang disebut “Pendidikan 4.0” yang menggambarkan berbagai cara untuk mengintegrasikan ilmu syaraf, psikologi kognitif dan teknologi pendidikan dengan merespon cepat kebutuhan manusia dan mesin yang diselaraskan untuk mendapatkan solusi, sehingga melahirkan sebuah inovasi baru, namun disisi lain revolusi industri menyebabkan aktivitas manusia akan tergantikan dengan aktivitas mesin, secara tidak langsung Revolusi industri telah mereduksi aktivitas manusia melaui digitalisasi.


Hal ini tentunya, menjadi tantangan tersendiri bagi perguruan tinggi islam, untuk dapat melahirkan output pendididikan yang siap memanfaatkan sistem digitalisasi, karena tidak menutup kemungkinan, perguruan tinggi islam yang masih menggunakan metode lama akan ditinggalkan, karena outputnya tidak dapat menjawab tantangan tersebut, revolusi industri melahirkan sistem komunikasi yang sangat terbuka dan bisa diakses oleh seluruh kalangan tanpa terkecuali, jika dahulu sistem perkuliahan dilakukan dengan sistem tatap muka dalam satu ruang kelas, dimasa mendatang perkuliahan bisa dilakukan hanya dengan memanfaatkan sistem digitalisasi.

Keterbukaan tersebut mestinya direspon secara cepat oleh perguruan tinggi islam dalam mamanfatkan sistem digitalisasi, perguruan tinggi yang masih bertahan dengan cara lama tentunya akan terduksi dengan sendirinya, Seperti madrasah yang tereduksi dengan sistem Sekolah IT. Oleh karena-nya perguruan tinggi islam harus dapat merespon kebutuhan dan tuntutan revolusi industri melalui reformasi sisteme pendidikan islam berbasis digitalisasi dengan cara peningkatan kapasitas, dan profesionalisme pengajar, kurikulum yang dinamis, sarana dan prasarana yang andal, serta teknologi pembelajaran muktakhir yang berorientasi pada masa depan. (Penulis adalah Ketua Jurusan Manajemen Pendidikan Islam STAI AHSANTA Jambi.)

Berita Terbaru

Copyright © 2019 STAI Ahsanta